Sunday, November 27, 2016

When Comes Something More Annoying Than Love

Aku menyebutnya, ANOMALI.
Aku:
Akan kutuliskan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, agar mudah kalian terjemahkan ke bahasa lain yang kalian mengerti.
Kau adalah kabut yang menghalangi pandanganku. Dan aku tidak menyukaimu.
Ini bukan teror dariku.

Bukan pula kata-kata penjilat yang selama ini rutin kau konsumsi dalam hening keberadaanmu.
Kau siapa, aku tidak peduli. Aku cuma tidak suka setiap kali mendengar namamu disebut. Dielukan karena kau seorang yang inspiratif, kau tenang seperti genangan oasis, mematikan seperti racun arsenik, dan kerupawanan yang kau miliki adalah puncak orgasme para pecintamu. 
Tapi bagiku, kau sangat mengerikan. 


Bartender:
(Berbisik) Kau harus menyebutkan namanya!


Aku:
Ah. Tidak perlu! Biar kuteruskan tanpa kejelasan. Biarkan semua orangbingung, sama sepertiku selama ini.
...
Kau, aku, dan semua orang pasti pernah mengalami sesuatu keadaan atau perasaan atau kesan yang tak beralasan terhadap sesuatu. Itulah yang sedang kualami, hanya terhadapmu seorang sayangnya. Demi Tuhan, aku tidak sedang ingin mencuri perhatianmu. Aku bahkan tidak pernah ingin bertemu atau berkenalan denganmu. Aku harap tidak akan ada dalam takdirku, bertemu denganmu. Sekalipun kita tinggal di bumi yang sama, negara yang sama, atau bahkan dalam mimpi.
Aku bukan pembenci.
Aku hanya orang biasa yang jauh lebih muda darimu. Aku melihatmu pertama kali saat usiaku sepuluh tahun, kau sedang memainkan peran ikonikmu, dan saat itu juga aku mematikan televisi. Melenyapkanmu.
Itulah yang mungkin akan terjadi jika aku bertemu denganmu. Aku akan melenyapkanmu. Aku harap aku bukan seorang psikopat. Bagaimana bisa? Aku cuma seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa tentang segalanya. Aku bahkan tidak mengenalmu. Mungkin mereka benar, kau seorang yang baik dan pantas dicinta. Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan itu? Apa aku buta? Apa aku gila?
Anggap saja aku gila. Aku hanya perlu mengabaikanmu dan menjalani hidupku. Semua itu sudah kulakukan. Tapi kau selalu muncul belakangan ini, saat peranmu berlanjut ke babak kedua. Aku hampir mendengar namamu dan melihat wajahmu setiap hari. Tapi keadaanku stagnan, aku masih ingin melenyapkanmu.
Hasrat itu seperti virus yang tidur dan bangun saat umpannya mendekat atau menjauh.
Ini bukan tentang cinta dan benci. Atau kebaikan dan kejahatan. Aku tidak akan keluar dari konteks keadaan yang ingin kupaparkan. 
Bartender:
Yeah, kau bisa mulai dari kisah musim panas tahun lalu. Supaya tidak bertele-tele. Aku dan pembacamu mulai bosan.
Aku:
Baiklah.
...
Musim panas tahun lalu aku jatuh cinta pada seorang lelaki lokal. Dia berkuliah di Eropa (tidak perlu terlalu detail). Kami menjalani hubungan jarak jauh yang panas dan membahagiakan. Tetapi itu hanya berlangsung selama 30 hari dan berakhir dengan sangat pahit. Dia terlalu banyak menyimpan rahasia hanya karena aku tidak pernah bertanya. Musim panasku pupus menjadi musim gugur, tapi seiring berjalannya waktu hubungan kami bersemi menjadi pertemanan yang berkualitas. Dia mengenalku baik, dan aku pun mengenalnya. Melupakan dan memaafkan telah sukses dilalui.
Kenapa aku menceritakan ini padamu? Karena lelaki itu mengagumimu. Entah apa yang ada di dirimu, yang dia dan orang lain bisa lihat dan rasakan, tapi aku tidak. Kau jadi standar moral bagi banyak orang. Kau sangat mengangumkan tapi kau hanya kabut yang menghalangi pandanganku. 
Kau juga menjadi satu dari beberapa alasanku untuk keluar dari wilayah ketenaranmu, tanah airku. Aku mengembara jauh, hingga namamu tak terdengar lagi. Aku berhasil lari dari kabut dan beberapa hal tidak menyenangkan yang kualami. Tapi keadaan mendesakku kembali. Aku harus kembali, dan kembali.
...
Dan tidak ada catatan untuk musim panas tahun ini.
Bartender:
Kau tidak ingin menceritakan kisah cinta dengan pria asing itu?
Aku:
Hanya 13 hari. Terlalu singkat. Terlalu drama. Dan terlalu tenang untuk masalah ini.
Bartender:
Tapi kau sudah jatuh tertimpa tangga.
Aku:
Biar saja. Setidaknya perasaan cinta, sakit, marah, benciku pada lelaki yang kucintai, perlahan-lahan bisa berubah. Aku sembuh berulang kali karena patah hati. Aku bisa mengobati hatiku sendiri. Tapi tidak dengan yang satu ini, entah apa dan kenapa, aku tidak bisa mengatasinya.
Bartender:
Dia tidak akan peduli. Sama sekali.
Aku:
Aku tidak peduli jika dia peduli ataupun tidak. Setidaknya, aku telah menceritakannya padamu. Bahwa ada satu penduduk di bumi ini yang tidak tahan ingin melenyapkannya.
Bartender:
Dia tidak punya salah.
Aku:
Ya, dia tidak bersalah.
Bartender:
Lalu apa gunanya kau memberitahuku?
Aku:
Mungkin kau bisa menyelamatkanku atau dirinya jika suatu hari sesuatu diluar kendali terjadi. Juga, kau bisa memberitahunya melalui burung-burung gagakmu, melalui anginmu, batumu, pohonmu, percikan airmu... silahkan, sampaikan padanya! 
Bartender:
Berikan setidaknya beberapa alasan yang dapat diterima selain absurditas?
Aku:
Aku tidak punya apa-apa selain saran. Lihatlah dunia dari mata orang lain, sesekali, karena tidak semua yang berharga datang dari keindahan.
Bartender:
Dia tidak akan mengerti dirimu. Sekalipun dia mengerti sastra.
Aku:
Dia tidak mengerti apa-apa. Dia tidak akan berbuat apa-apa untuk dunia yang bukan dari matanya. Sama sepertiku. Ini hanya anomali. Bukan masalahmu, ataupun masalahnya. Aku hanya ingin mengingatkan jikalau suatu hari seorang berjalan cepat sambil berteriak menyebut namanya, lalu menampar wajahnya, itu adalah aku.
Bartender:
Jadi kau akan menamparnya dulu sebelum melenyapkannya?
Aku:
Ya. Tapi aku lebih ingin, lebih baik, tidak pernah punya kesempatan untuk semua itu.
...

1 comment: